DEPAN   |   ARTIKEL   |   HUMOR   |   VIDEO   |   TAMU   |   KONTAK

New Page 1
New Page 1

[ 2 ] User Online

Hikmah

"Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya"

Tulisan Pilihan

"Mas Bambang"

1170 kali dibaca (Humor)

Kata Mereka

inoe
20 Desember 2013
"anjriitt.. keren"

asepmic74
15 November 2013
"bagus mas website dan karya2nya"

 
[ tulis ] [ lihat semua ]
 
Follow achmadharir on Twitter
 
 
 
 

Jalan - Jalan ke Jakarta

21 Maret 2013
sumber : www.facebook.com/ryi.l.belas
 

Sore itu, Rabu, tanggal 27 Juni 2007, ada sebuah SMS masuk ke HP Ustaz Burhan, SMS itu berasal dari Abdul Majid rekannya dan berbunyi,

“NANTI MALAM SAYA MAU KE RUMAH BA’DA MAGRIB, BOLEH GA?”

Sang ustaz menjawab, “BOLEH, TAPI JANGAN BA’DA MAGRIB. ABIS ISYA AJA YA.... DITUNGGU!”

Abdul Majid membalas lagi, “JANGAN DITUNGGU, KARENA MAU ‘NGEREPOTIN’ ANGGAP AJA DATENG MENDADAK!”

Ustaz Burhan tidak membalas SMS terakhir, dan benar saja begitu shalat Isya telah didirikan, Abdul Majid pun datang ke rumah Ustaz.

Abdul Majid datang ke rumah Ustaz Burhan dengan tampang kusut, sepertinya dia lagi banyak masalah. Biasa orang sekarang, hidup sarat dengan masalah!

Saking pusing dengan masalahnya ia langsung berkata kepada ustaz dan masuk rumahnya tanpa salam,

“Bang Haji, tolongin saya dong pinjemin duit barang tiga juta setengah... Saya lagi pusing nih!”

“Memangnya ada apa Majid?” Sang ustaz bertanya balik.

Setahu ustaz Burhan, Abdul Majid adalah anak yang baik, Dia baru berumur 27 tahun dan belum menikah.

Meski demikian, Abdul Majid mau memikirkan nasib anak-anak yatim di kampungnya, dan ia pun mendirikan sekolah gratis untuk mereka. Abdul Majid di kampungnya dikenal sebagai tuan guru.

“Begini, saya pernah janji sama anak-anak di sekolah bahwa kalau mereka lulus ujian akhir tahun ini, saya mau ajak mereka jalan-jalan ke Jakarta. Semalam saya sudah lihat raport mereka semua.

Alhamdulillah mereka lulus! Tapi tiba-tiba saya terbayang janji saya tempo hari. Malam tadi saya kalkulasi, keperluan jalan-jalan adalah tiga setengah juta.

Hari Jum’at raport dibagikann dan Sabtu saya mau ajak mereka semua jalan-jalan. Tolong dong Bang Haji, pinjemin saya duit tiga setengah juta!”

Ustaz Burhan hanya tersenyurn mendengar penuturan Abdul Majid. Tulus sekali anak ini, gumamnya. Demi kepentingan anak-anak yatim sampai sedemikian hebatnya ia memikirkan.

Sambil tersenyum dan menghibur, Ustaz Burhan bilang kepada Abdul Majid:

“Begini, urusan tiga setengah juta gampang nyarinya. Asal kamu dan saya malam ini dan besok mau ngerjain tiga hal:

1) Sholat Tahjud malam ini.

2) Berdoa sungguh-sungguh sama Allah agar Dia mau kasih duit sejumlah itu, dan

3) Punya duit berapa sekarang di kantong?”

Kalimat terakhir Ustaz Burhan mengagetkan Abdul Majid. Dengan keheranan ia bertanya, “Ada sih 250 ribu!”

“Boleh gak disedekahin 100 ribu?!” Ustaz Burhan bertanya.

Sambil keheranan Abdul Majid bertanya, “Disedekahin ke Bang Haji?”

“Nggak, sedekahin aja kemana ente mau! Insya Allah kalo tiga hal ini kita kerjain, Allah bakal mendatangkan uang yang kita perlukan. Asal kita yakin Allah bakal nolong kita !”

Pembicaraan antara dua hamba Allah pun terus berlangsung. Hingga waktu menunjukkan lebih dari jam 9 malam. Ustaz Burhan pun menyuruh Abdul Majid pulang.

Namun Abdul Majid belum mau berdiri dari kursi, maka ustaz pun masuk kamar. Sejurus kemudian dia membawa 5 lembar uang lima puluh ribuan. Uang itu diberikan kepada Abdul Majid dan ia pun menghitungnya.

Abdul Majid mengira bahwa keperluannya sebesar tiga juta setengah akan ditutupi oleh ustaz. Matanya berbinar saat melihat ustaz membawa lembaran kertas berwarna biru itu.

Kelima lembar uang itu dihitungnya di hadapan ustaz. Usai menghitung Abdul Majid berkata,

“Kok Cuma dua ratus lima puluh ribu doang?” Ia bertanya keheranan, mungkin jumlah yang ia dapati jauh dari harapan.

“Iya, itu cuma segitu doang. Mudah-mudahan itu jadi pancingan. Yang penting jangan lupa tiga hal tadi. Insya Allah pasti akan ada pertolongan!” Ustaz Burhan coba menegaskan.

Tapi Abdul Majid masih belum merasa yakin. Meski sudah di antar hingga ke halaman oleh Ustaz Burhan, ia masih bertanya,

“Emangnya bener kalo saya kerjain 3 hal tadi, saya bisa dapat duit Jum’at pagi?” Terlihat raut kebimbangan pada wajah Abdul Majid.

“Jangankan Jum’at pagi, besok pagi pun kalo Allah mau pasti uang itu pasti datang, Yang penting yakin dan kerjain aja 3 hal itu!” Ustaz Burhan sekali lagi meyakinkan.

Akhirnya Abdul Majid pun pulang bersama sepeda motornya.

Kamis siang pukul 13.00, tanggal 28 Juni 2007, Abdul Majid mengirim SMS ke nomor ustaz Burhan. SMS itu berbunyi,

“ASSALAMU’ALAIKUM. SUDAH SIANG GINI SAYA BELOM DAPET 3,5 JUTA. PADAHAL SUDAH SHODAQOH. ADA CARA LAIN GA?”

Dan SMS itu, Ustaz Burhan tahu bahwa Abdul Majid sedang panik, maka beliau pun membalas,

“KALO UDAH SEDEKAH, SEKARANG DOA AJA YANG SUNGGUH-SUNGGUH DAN BERTAWAKKAL. PASTI ALLAH TOLONG!”

Lama tidak ada balasan SMS dari Abdul Majid. Ustaz mengira bahwa Abdul Majid sudah mendapat pertolongan atas masalahnya.

Namun pukul 19:56, ada sebuah SMS lagi dan Abdul Majid masuk ke HPnya, “ASTAGFIRULLAHAL’ADZIM. KIRA2 SAYA DOSA APA YA? DO’A SAYA GAK DI QOBUL."

Menerima SMS itu Ustaz Burhan turut merasa panik. Besok pagi padahal sudah hari Jum’at. Hal yang membuat panik sang ustaz adalah bahwa dirinya telah menggiring Abdul Majid untuk masuk ke jalan Allah SWT.

Demi menyelesaikan permasalahannya. Ustaz Burhan khawatir, andai saja pertolongan Allah itu tidak datang, pasti keyakinan Abdul Majid kepada Allah SWT akan berkurang. Lama Ustaz Burhan berdoa kepada Allah Swt agar dia berkenan memudahkan urusan Abdul Majid.

Usai hatinya tenang, sang ustaz membalas SMS dengan menuliskan, “ALLAH GAK BUTA DAN GAK TULI. DIA MELIHAT DAN NGEDENGER APA YANG KITA PERLUKAN, TERUS SAJA BERDOA DAN TAWAKAL! SAYA JUGA BERDOA SEMOGA URUSAN INI AKAN DAPAT PERTOLONGAN.”

Abdul Majid tidak membalas SMS Ustaz Burhan mengira jangan-jangan dia sudah tidak percaya lagi dengan kekuatan doa. Maka Ustaz Burhan pun terus mendoakan Abdul Majid untuk urusannya.

Hingga saatnya kira-kira pukul 9 pagi di hari Jum’at. Ustaz Burhan mendengar suara dering masuk di HP-nya. Namun karena beliau sedang berada dalam kendaraan umum, maka HP itu tidak diangkatnya.

Tepat beberapa langkah setelah beliau turun dari metro mini yang ditumpanginya, sekali lagi HP-nya berdering.

Beliau tidak sempat melihat nomor penelepon pada display HP. Belum lagi beliau berucap salam, terdengarlah suara yang begitu riang di seberang,

“Bang Haji, alhamdulillah, alhamdulillah! ini Majid, saya sudah dapat duit tiga setengah juta itu. Bukan pinjem lagi, kebetulan ada orang ngasih, alhamdulillah!”

Mendengar suara gembira itu, Ustaz Burhan turut bersyukur. Beliau pun bertanya, penasaran “Bagaimana ceritanya bisa dapat duit itu?”

“Entar saya datang ke rumah Bang Haji deh, biar bisa cerita selengkapnya. Sekarang saya mau pulang ke kampung dulu, ngejar pembagian raport. Mudah-mudahan besok pagi bisa bawa anak-anak main ke Jakarta!”

Telepon itu pun ditutup dengan diakhiri suara nada riang Abdul Majid. Kini tinggal Ustaz Burhan bertanya-tanya darimana Allah mendatangkan pertolongan itu?

Belakangan beliau tahu dari seseorang bahwa bupati tempat Abdul Majid berada memberikan bantuan tunai kepada sekolahnya persis sebesar uang yang dibutuhkan oleh Abdul Majid.

.........

[ artikel lainnya... ] Share pada Facebook |
 
 

Achmad Harir 2011 - Arsenal Design